Pemburu yang tamak

•November 6, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada satu hari, seorang pemburu telah menangkap seekor burung murai. Dengan perasaan sedih burung murai itu merayu kepada si pemburu.  Burung itu bertanya, ” Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?”

Lelaki itu menjawab ” Akan aku sembelih engkau dan makan engkau sebagai lauk”

“Percayalah, engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahu engkau tiga nasihat yang lebih baik dari engkau  memakanku “

Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Terpengaruh dengan rayuan si murai itu, si pemburu pun bersetuju. Lalu dia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, “Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.”

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Di sampaikannya nasihat yang kedua, “Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.”

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, “Wahai manusia malang ! Jika tadi engkau sembelih aku, nescaya engkau akan dapati dalam tubuhku ada dua biji mutiara. Berat setiap mutiara itu adalah dua puluh gram.”

Terperanjat sungguh si pemburu itu mendengar kata-kata si burung murai.. Si pemburu berasa dirinya telah tertipu. “Bodohnya aku! Bagaimana aku boleh terlepas peluang yang begitu baik!”  Pemburu itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun katanya, “Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!”

Si burung murai menjawab,”Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. engkau fikirkan, hai orang yang dungu. Aku, dagingku, darahku dan buluku tidak logik  seberat dua puluh gram. Oleh itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua puluh gram? Aku  tidak cukup besar untuk menyimpan dua butir mutiara besar! Kau tolol! Oleh kerananya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.”  Murai menyambung lagi, “Nasihatku yang ketiga adalah, memberi nasihat kepada sedozen bahlul seperti engkau ini adalah seperti menabur benih di tanah usang, tidak akan memberi faedah!”

Kemudian terbanglah si burung murai yang bijak itu meninggalkan si lelaki yang termenung akan ketamakannya itu.

Moral:
Itulah contoh betapa halobanya anak Adam yang jadi kelabu mata dari mengetahui kebenaran.
Jika seseorang menginginkan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, nescaya hilanglah sifat qana’ (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat haloba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu mengheret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang merosakkan maruah (harga diri).

Sumber : Anonimous.

Menulis di atas pasir

•November 6, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

isah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :¢Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku.¢

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :

¢Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku.¢

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,¢Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?¢ Temannya sambil tersenyum menjawab,¢Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.¢

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis diatas pasir!

Sumber: anonimous

Nilai Kasih seorang Ibu

•November 6, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu.
Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.  Ongkos membantu ibu:
Tolong pergi ke kedai Rp 40.000
Tolong jaga adik Rp 40.000
Tolong buang sampah Rp 10.000
Tolong kemas bilik Rp 20.000
Tolong siram bunga Rp 30.000
Tolong sapu sampah Rp 30.000
Jumlah : Rp 170.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu membelai kepala sang anak.   Si ibu mengambil sebatang pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.
Ongkos mengandungmu selama 9 bulan – GRATIS
Ongkos berjaga malam kerana menjagamu – GRATIS
Ongkos air mata yang menetes keranamu – GRATIS
Ongkos kegusaran karena menghawatirkanmu – GRATIS
Ongkos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu – GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh si ibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata,
¢Saya Sayang Ibu¢.
Kemudian si anak mengambil pen dan menulis ¦#39;LUNAS¦#39; pada muka surat yang ditulisnya.

Iman Yang SesungguHnya…

•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi masih menyisakan gigit dingin. Bahkan matahari pun baru saja bangkit di ufuk timur. Sinarnya yang kemilau seperti panah-panah cahaya menusuk sehamparan tanah yang kering.

Sekeliling Masjidil Haram sudah ramai orang. Mereka datang berduyun. Dalam waktu singkat. Abu Jahal telah menghubungi mereka hingga pintu ke pintu. Massa pun berkerumun di hadapan lelaki itu. Abu Jahal segera memintanya menceritakan apa yang sudah diceritakan kepadanya.

“Aku semalam pergi ke luar negeri,” kata lelaki itu. “Aku pergi ke Baitul-Maqdis.”

“Pergi ke mana Muhammad?” tanya mereka seperti tak percaya dengan telinga sendiri.

“Semalam aku pergi ke Baitul-Maqdis,” kata lelaki itu mengulang.

“Semalam engkau pergi ke Baitul-Maqdis dan pagi-pagi begini sudah berada di sini?” sergah mereka seperti tengah mendengar matahari terbit dari barat.

“Ya, sungguh, aku semalam telah pergi ke Baitul-Maqdis.”

Mereka sama-sama bergumam. Bersahutan. Dan gempar! “Ini sungguh perkara yang amat ajaib!”

Sebagian orang mengejek. Sebagian mencela dan bertepuk tangan. Sebagian lagi tertawa terbahak. Cerita lelaki itu serupa dongeng di telinga mereka, yang ajaib dan seperti tak masuk di akal.

“Hai, Muhammad! Urusanmu sebelum hari ini adalah urusan yang mudah,” seru Muth’im bin Adi diantara kerumunan orang. “… kecuali perkataanmu hari ini! Kita biasa berjalan pergi ke Baitul-Maqdis dengan berkendara unta yang cepat. Berangkatnya saja sebulan, pulangnya sebulan pula.”

Orang-orang mengangguk membenarkan Muth’im. Apalagi sebagian dari mereka pernah pergi ke tempat yang disebutkan lelaki itu.

“Nah, sekarang engkau mengaku telah datang ke sana dan kembali di tempat ini dalam tempo hanya semalam,” lanjut Muth’im penuh ejekan. “Demi Latta dan Uzza! Sungguh aku tak akan membenarkanmu dan apa-apa yang kau katakan! Sedikitpun!”

Massa berteriak mendukung Muth’im. Rasa tak percaya pun berkobar bagai setumpuk sekam disulut bara api. Menjalar seperti dihembus angin musim kering siang hari.

“Hai Muth’im!” seru seseorang yang terlihat baru saja datang dengan unta. “Amat jeleklah apa yang kaukatakan kepada saudara laki-lakimu itu. Kamu menghadapkan mukamu kepadanya dengan kebencian dan mendustakannya!”

Muth’im menoleh pada asal suara itu. Seorang lelaki telah menyibak kerumunan. Kini lelaki itu berdiri di hadapannya.

“Apakah engkau percaya bahwa semalam ia telah berangkat ke Baitul Maqdis dan telah kembali sebelum fajar, wahai Abu Bakar?” tanya Muth’im pada laki-laki itu.

Dan laki-laki itu pun menjawab dengan jawaban yang tak pernah terpikirkan olehnya dan mereka yang hadir, “Aku bersaksi bahwa dia benar.”

***

Manusia memiliki setidaknya lima indera. Dengan kelimanya, ia bisa menangkap segala hal di sekelilingnya, mengumpulkan fakta terkait dengannya, dan dengan bantuan akal yang dikaruniakan padanya, ia kemudian bisa mengidentifikasi adanya sebuah “keberadaan”. Dan itu membuatnya yakin. Membuatnya percaya.

Oleh karena itu, manusia cenderung percaya kepada sesuatu yang terindera, meski secara fisik tak terlihat. Ia percaya adanya pesawat yang melintas hanya dengan mendengar suaranya dari dalam rumah. Ia percaya akan adanya penghalang di depannya hanya dengan merabanya dalam gelap. Ia pun akan menutup hidung karena dengan indera penciumannya ia percaya akan adanya suatu gas yang membahayakan. Ia percaya sesuatu karena ia terdeteksi secara inderawi dan bisa diterima di akal.

Kepercayaan yang demikian adalah kepercayaan yang memang “sudah seharusnya”. Kepercayaan yang niscaya. Dan sejatinya, percaya kepada Tuhan, dzat yang memiliki segala maha itu, ada di jalur ini.

Namun, kepercayaan semacam ini tentu saja rawan. Apa yang terdengar sebagai deru pesawat terbang, boleh jadi berasal dari mesin mobil tua dengan pedal gas yang terinjak penuh. Apa yang teraba sebagai kucing, ternyata musang yang terperangkap di dalam lorong yang gelap. Apa yang dianggap Tuhan, ternyata hanyalah sebatang pohon rindang berusia ratusan tahun. Jikalau demikian halnya, maka kepercayaan yang hanya sebatas wadag seperti ini berpeluang keliru dan salah sangka.

Kepercayaan yang demikian pun akan tumpul jika dihadapkan pada “sesuatu” yang tak terindera dan sekaligus “tak terjangkau akal”. Inilah barangkali yang dalam bahasa agama disebut gaib. Menariknya, “percaya kepada yang gaib” ternyata merupakan prasyarat seseorang mencapai derajat muttaqin (Q.S. Al-Baqarah: 3). Apalagi dalam ayat itu ia disebut pertama, bahkan sebelum “menjalankan salat”. Karena itu, percaya kepada yang gaib tentu menjadi perkara maha penting bagi kebertakwaan seseorang.

Ada banyak pengertian tentang istilah gaib. Secara bahasa, menurut al-Qurthuby, al-ghaibi adalah segala sesuatu yang tak terlihat oleh pandangan. Sedangkan gaib dalam konteks ayat di atas adalah segala berita dari Rasulullah SAW, yang tidak tercerna akal; seperti tanda-tanda dan hari kiamat, siksa kubur, hidup setelah mati, syurga dan neraka.

Percaya kepada Rasul SAW dan segala yang disampaikannya — baik perkara yang terindera dan tercerna akal maupun tidak, karenanya menjadi kunci iman seseorang. Dan berita-berita gaib dalam konteks demikian nampaknya menjadi ujian keberimanan paling tinggi. Betapa tidak! Ia harus percaya segala yang tidak terlihat, tidak terjangkau akal, yang keluar dari mulut seorang utusan-Nya. Jika ia percaya, maka kepercayaan semacam ini merupakan iman yang penuh, utuh, bulat. Kepercayaan yang fideistis* barangkali; yang dalam perspektif fideistis, iman berarti sebuah “lompatan”. Kita berani “melompat”, meski tanpa didukung bukti-bukti yang terindera dan terjangkau akal.

Itulah yang dicontohkan Abu Bakar terhadap berita Isra’ dan Mi’raj Baginda Nabi SAW. Ia percaya benar bahwa Allah SWT telah memperjalankan hamba-Nya itu ke sebuah tempat sejauh sebulan perjalanan, ditambah naik ke puncak langit, sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan manusia, hanya dalam semalam. Imannya kepada Nabi dan apa yang dibawanya sungguh bulat bundar. Ia bahkan tetap percaya andai berita yang dibawa Nabi jauh lebih dahsyat dan “mustahil” dari peristiwa itu.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bagaimanapun merupakan salah satu puncak ujian keberimanan para sahabat kala itu. Tak sedikit yang kemudian keluar dari agama ini, murtad; karena iman mereka masih setengah hati.

***

Orang-orang masih bertanya kepada Nabi tentang Baitul-Maqdis. Bagaimana bentuk dan bangunannya, rupanya, jumlah pintu dan tiangnya. Semua dijawab Nabi dengan amat tepatnya hingga seolah Baitul Maqdis seperti dibentangkan di hadapannya.

“Apakah kamu percaya pada ceritanya, Abu Bakar?”

“Bahkan aku percaya akan apa saja yang disampaikannya meski lebih jauh dari hal ini,” jawab Abu Bakar. “Aku percaya tentang langit, perginya dan kembalinya. Mengapa aku tak percaya akan rahmat yang dikaruniakan Allah kepadanya dengan hanya sekadar memindahkan dirinya ke tempat sejauh sebulan perjalanan (dalam semalam)?”

***

* Fideistis yang dimaksud dalam tulisan ini adalah iman, bahkan terhadap sesuatu yang “tak terjangkau nalar” (yang dibawa Nabi); bukan fideisme (dari kata Latin “:fides”, iman) dalam arti yang sempit.

Cinta yang sebenar”nya..

•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Matahari memancar terang di cakrawala timur seperti bola raksasa yang terlontar dari balik bukit-bukit.Pasar kota Madinah pagi itu begitu ramai. Orang berlalu-lalang, datang dan pergi dengan unta ataupun keledai. Juga sekadar berjalan kaki. Riuh-rinai para pedagang yang beradu suara menawarkan barang dagangannya seperti sekumpulan lebah yang tengah membangun sarangnya. Dirham dan dinar segera bertukar tempat dengan sekarung gandum, setangkup daging, sebungkus roti, sepasang baju besi, atau sebotol minyak wangi kesturi.

Pada sebuah sudut, seorang pengemis sedang duduk. Tulang-belulang lelaki Yahudi itu telah renta. Badannya lusuh, kusut-masai. Sebuah tongkat kayu ada di tangannya, tergenggam erat, seperti sesuatu yang tak hendak dilepaskannya meski barang sesaat. Sesekali tangannya yang lain menggapai-gapai sesuatu di sekelilingnya. Ia buta, hingga menggantungkan hidupnya di sudut pasar itu pada orang yang mau memberinya sesuap makanan untuk mengarungi sisa hidup.

Namun seperti tak pernah berhenti, dari mulutnya keluar serangkaian perkataan, setengah berteriak, kepada orang yang lewat di dekatnya. Bukan menawarkan semacam barang dagangan. Bukan pula rintihan menghiba mengharap belas-kasihan. Tapi, rentetan pesan berisi caci-maki.

“Wahai saudaraku. Jangan dekati Muhammad! Jangan dekati Muhammad!” teriaknya seperti tukang syair kesetanan. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kalian mendekatinya, kalian pasti akan terkena pengaruhnya!”

Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya datang ke tempat itu dengan makanan di tangan. Didekatinya lelaki buta itu. Perlahan, seperti tak ingin mengusiknya. Dan tanpa sepatah katapun terucap, ia kemudian menyuapinya makanan dengan tangannya sendiri. Lembut. Santun. Telaten, hingga suap terakhir.

Lelaki buta itu tampak merasa nyaman mendapatkan suapan makanan hari ini. Dari seorang lelaki paruh baya yang dengan lembut menyuapinya. Ia pun menyampaikan terima kasih dan juga sebuah pesan, sebagaimana disampaikannya pada setiap orang. “Jangan dekati Muhammad, kisanak!” katanya berapi. Keroncongan perutnya sudah lenyap. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kamu mendekatinya, kamu pasti akan terkena pengaruhnya!”

Lelaki paruh baya itu pun diam menyimak. Kemudia ia pamit, untuk kemudian kembali ke sudut pasar itu pada suatu pagi yang cerah keesokan harinya. Ia membawa makanan seperti kemarin. Ia juga menyuapi lelaki pengemis buta itu dengan kelembutan yang sama seperti sebelumnya. Dengan tangannya sendiri. Ia pun mendapatkan pesan yang sama dari pengemis buta itu sebelum pamit pergi.

Demikian hal itu berlangsung berbilang hari hingga pada suatu hari, lelaki paruh baya yang lembut itu tak pernah datang lagi. Dan suapan lembut itu pun berakhir sudah.

***

Suatu hari, Abu Bakar ra. datang kepada ‘Aisyah ra., anaknya yang istri tercinta Baginda Nabi. Ia bertanya, “Wahai anakku. Adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan?”

’Aisyah mengernyitkan dahi sesaat, seperti mengingat sesuatu. “Wahai Ayahku. Engkau adalah ahli sunnah Rasulullah,” kata ummul mu’minin itu lembut. “Hampir tidak ada sunnah Rasulullah yang belum engkau kerjakan kecuali satu hal saja.”

“Sunnah apakah itu, anakku?” tanya Abu Bakar dengan penuh penasaran.

“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berkunjung ke sudut pasar kota Madinah,” terang ‘Aisyah mengingat kembali kebiasaan suami tercintanya itu sebelum hari wafatnya. “Beliau membawakan makanan untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”

Tanpa menunggu waktu, pagi keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke sudut pasar kota Madinah. Ia membawa makanan di tangan. Didapatinya seorang pengemis Yahudi di sana. Tulangnya telah renta dengan badan yang lusuh dan kusut-masai. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mulai menyuapinya dengan makanan.

Tiba-tiba, lelaki pengemis buta itu pun berteriak marah. “Siapa kamu?” tanyanya ketus.

“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar. Sesuap makanan berikutnya telah siap di tangannya.

“Bukan! Bukan!” sergah si Yahudi dengan tongkat tergenggam erat di kedua tangannya. Matanya seperti memicing. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku!”

Abu Bakar termangu. “Bagaimana mungkin engkau tahu, wahai kisanak?”

“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah,” lanjut pengemis itu pada Abu Bakar. “Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan lembut.”

Abu Bakar seketika tak kuasa menahan bulir air di matanya jatuh satu demi satu. Ia pun sesenggukan di hadapan pengemis itu. “Wahai, kisanak! Aku memang bukanlah orang yang biasa datang kepadamu,” lanjut Abu Bakar diantara isak. “Aku hanyalah salah seorang sahabatnya.”

“O, ya? Dimana dia?”

“Orang yang mulia itu kini telah tiada.”

“Telah tiada? Siapakah dia? Siapa dia sebenarnya, wahai kisanak?”

“Dialah Muhammad! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

***

Cintailah kekasihmu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi kekasihmu. Ada yang mengatakan ini sebuah hadits atau setidaknya sebuah nasihat yang berharga. Apapun itu, tetapi cinta dan benci mungkin memang tak dapat mengisi tempat yang sama. Keduanya berhadapan secara diametral. Ketika salah satu menipis, maka yang lain akan menebal. Jika yang satu pergi, maka yang lain akan datang.

Jika cinta dan benci mengisi sebuah waktu, dan waktu terus berlalu, maka cinta dan benci pun ikut berlalu. Jika cinta dan benci mengisi ruang hati, dan hati (kalbu) itu bersifat “berbolak-balik”, maka cinta dan benci pun bisa bersifat berbolak-balik, fluktuatif: kadang naik dan kadang turun. Maka, tidak ada cinta sebenar-benar cinta kecuali cinta sebagaimana mencintai diri sendiri. Bahkan mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri, kata Nabi, merupakan salah satu tanda beriman seseorang. Bukanlah sebuah kebetulan jika iman itu juga bersifat yazidu wa yanqusu, kadang naik dan kadang turun.

Implementasi mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri tercermin pada bagaimana memperlakukan seseorang sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Senangnya seseorang adalah senangnya juga. Derita seseorang tak lain deritanya juga. Jika kesadaran ini yang muncul pada diri seseorang, maka sesungguhnya tidak akan ada rasa benci dalam hatinya pada seseorang yang lain, sebagaimana dia pada dasarnya tidak akan pernah membenci diri sendiri. Tidak akan ada ruang di dalam hatinya kecuali dipenuhi dengan: cinta, cinta, dan cinta. Bahkan kepada seseorang yang membenci dirinya sekalipun.

Itulah yang dipraktekkan Baginda Rasul di sudut pasar Madinah itu untuk kita teladani. Kebencian seorang Yahudi kepada al-Musthofa tidak menghalangi langkahnya untuk datang berbagi dengannya. Bahkan tanpa perlu menyebutkan jati diri, laksana tangan kiri yang tak tahu-menahu ketika tangan kanannya mengulur memberi. Penyebutan jati diri hanya akan memberi warna cinta dengan setitik noktah pamrih, sehingga tak lagi putih bersih.

Tidaklah itu semua terjadi kecuali berangkat dari rasa cinta dan kasih sayang Baginda Nabi yang tak terkira. Tidak saja untuk sesama muslim, tetapi untuk semesta alam (rahmatan lil’âlamîn). Sebuah teladan yang tak mudah diteladani, memang. Bahkan oleh seorang Abu Bakar sekalipun.

***

“Dia Muhammad? Benarkah demikian?”

Abu Bakar mengiyakan.

Linang air matapun membahasi pelupuk pengemis itu. Ia sesenggukan, meratap teramat sangat. Menyesali apa yang sudah terjadi pada dirinya.

“Wahai kisanak! Selama ini aku telah menghinanya. Memfitnahnya!” katanya diantara tangis. “Dan ia tidak pernah marah kepadaku sedikitpun. Ia justru mendatangiku setiap hari, dengan membawa makanan di tangannya. Ia bahkan menyuapiku dengan tangannya yang lembut. Betapa mulia dirinya! Betapa mulia dirinya!”

Lelaki itupun lalu bersyahâdat di depan Abu Bakar.

***

Manajemen Yang Paling Hebat

•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lelaki itu menghampiri ‘Aisyah dan berdiri di depannya.

Meski telah beranjak 60 tahun, namun hari itu, ia terlihat seperti muda kembali. Wajahnya sungguh bercahaya sesempurna bulan purnama tanggal lima belas karena kegembiraan yang meluap. Bagaimanapun, seorang bayi laki-laki yang masih merah berada dalam dekapannya yang hangat. Ia adalah Ibrahim, anaknya yang baru saja lahir dari rahim Mariyah, istrinya yang berdarah Mesir itu.

Ditimangnya Ibrahim dengan penuh cinta di hadapan istri yang mula pertama bersama Saudah dinikahinya selepas Khadijah wafat itu, seperti ia menimang anak-anak Fathimah dalam gendongannya. Dipandanginya paras elok bayi merah itu seperti bercermin pada diri sendiri. “Bukankah ia mirip denganku, ya ‘Aisyah?”

‘Aisyah sejenak memperhatikan bayi itu, sementara seribu sembilu seperti menusuk relung hatinya. Kemudian ia berkata, datar saja, “Aku tidak melihat kemiripan sedikitpun antara engkau dan dia.”

Ketika dua tahun yang lalu Hathib bin Abi Balta’ah membawa Mariyah dan Sirin dari Mesir beserta sepucuk surat dari Raja Muqauqis, lalu Nabi menikahi Mariyah, ‘Aisyah tidaklah terlalu risau. Bagaimanapun gadis Qibthiy itu seorang sariyah* dan karenanya tak sepantasnya menyandang ummahatul mu’minin seperti dirinya dan istri-istri Nabi yang lain. Tetapi, semenjak hamil dan beberapa waktu yang lalu dari rahimnya lahir seorang bayi laki-laki dari benih Nabi, kerisauan itu muncul dan semakin menjadi. Bahkan, tak seperti biasa, api cemburu itu telah merambat ke seluruh ummahatul mu’minin seperti bara dalam setumpukan daun kurma kering yang tertiup angin padang pasir siang hari.

Bagaimanapun, mereka yang telah berbilang tahun bersama Nabi tak satupun yang beroleh keturunan dari beliau sebagaimana Mariyah, yang belum juga genap dua tahun berada di samping suami mereka.

Apalagi ia hanya seorang hamba sahaya.

***

Hafshah berdiri termangu di depan pintu. Hari itu giliran Nabi bersamanya. Tapi jelas terdengar dari tempatnya berdiri kini percakapan suaminya dengan seorang perempuan di dalam rumahnya. Bahkan sepertinya, di dalam … kamarnya!

Wajahnya seketika memerah panas membara. Hatinya menggelegak serupa air yang mendidih di tengah sahara bulan ramadhan ketika matahari di atas kepala. Panas badannya serasa bergerak naik ke puncak ubun-ubun. Tak salah, perempuan itu tak lain adalah Mariyah! Beraninya perempuan sahaya itu berada di kamarnya ketika ia tak sedang berada di rumah!

Ia beringsut ketika tahu Mariyah hendak pergi. Ketika kemudian ia masuk dan mendapati Nabi, tertumpahlah seluruh isi kepalanya seperti hiruk pasukan muslimin ketika benteng Khaibar berhasil dirobohkan ‘Ali bin Abi Thalib.

“Aku melihat siapa yang ada di samping engkau tadi!” katanya ketus berapi-api. Ia seperti lupa telah berkata-kata sebagaimana perempuan lain berkata kepada suaminya. Ia seperti lupa bahwa suaminya adalah seorang Nabi. “Demi Allah, engkau telah menghinakanku! Engkau tidak akan melakukan demikian jika engkau tidak memandangku hina!”

Nabi hanya mendengarkan perkataan puteri Umar itu dalam diam. Ia tahu bahwa setiap wanita memiliki sepetak ruang cemburu di dalam dadanya. Maka meski kemarahan Hafshah memuncak, lelaki agung itu tetap tenang dan sabar. Bahkan, untuk meredam agar kemarahan itu tak merembet kepada istri-istrinya yang lain, ia sampaikan pada Hafshah bahwa ia mengharamkan Mariyah buat dirinya! Dengan satu syarat: Hafshah harus merahasiakan hal itu dari ummahatul mu’minin yang lain.

Tetapi demikianlah, rahasia itu akhirnya menyebar kepada istri-istri Nabi yang lain seperti minyak kesturi yang tumpah dari tempatnya. Hanya saja rahasia ini tidaklah sedap didengar telinga.

Seperti menyiram api dengan minyak, bocornya rahasia itu akhirnya justru membuat keruh suasana rumah tangga Nabi.

***

Hari itu, masjid sedang ramai oleh para sahabat. Mereka masygul demi mendengar Rasulullah akan menceraikan semua isterinya. Mereka tenggelam dalam renungan tentang bagaimana nasib isteri-isteri beliau jika hal itu benar-benar terjadi. Sebuah persoalan rumit, tentu, yang tak seorangpun berani turut campur-tangan.

Kekeruhan rumah tangga Nabi memang memuncak lebih dari sekedar badai padang pasir di malam pekat. Semua bermula dari kecemburuan para istri beliau terhadap Mariyah. Bahkan keputusan Nabi mengharamkan Mariyah untuk dirinya, yang tak lagi rahasia itu, sama sekali tak bisa meredam gejolak tersebut. Lelaki agung itu bahkan terpaksa mengambil keputusan yang begitu berat: ia meninggalkan isteri-isterinya di rumah masing-masing dan bersumpah tidak akan menghampiri mereka selama satu bulan!

Kini hampir sebulan sudah Nabi meninggalkan para isterinya. Tidak pernah digilir, tidak dikunjungi, tidak pula diajak bicara sedikitpun. Bahkan gerutu dan cercaan sebagian kaum muslimin mulai tertumpah pada para isteri Nabi. Kemarahan yang dulu memuncak, akhirnya kini berubah menjadi kekhawatiran dan ketakutan kalau-kalau wahyu turun memerintahkan kepada Nabi untuk menceraikan mereka.

Tiba-tiba Umar berdiri diantara kerumunan sahabat. Ia lalu menuju tempat Nabi mengasingkan diri. Sebagai salah seorang mertua Nabi disamping Abu Bakar, ia adalah orang yang paling khawatir karena persoalan rumah tangga Nabi ini menyangkut puterinya sendiri. Dilihatnya Rabah, bujang penjaga tempat Nabi mengasingkan diri berdiri di depan pintu serupa patung berhala Hubal di sekitar Ka’bah sebelum Fathul Ma’kah.

“Rabah!” teriaknya kepada bujang itu. “Mintakanlah izin kepada Rasulullah bahwa aku akan menghadap!”

Bujang itu sejenak termangu, lalu masuk ke bilik Nabi. Tak lama kemudian ia keluar dengan pandangan kosong tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

“Hai, Rabah!” teriak Umar lagi. Ia tahu Nabi tidak berkenan. Tapi laki-laki yang jika lewat di sebuah jalan bahkan setan pun akan terbirit itu bertekad tak akan pergi sebelum berjumpa dengan beliau. “Mintakanlah izin untukku kepada Rasulullah, aku akan masuk. Barangkali beliau menyangka bahwa aku datang untuk kepentingan Hafshah. Tidak! Sekali-kali tidak! Bahkan, demi Allah, jika sekiranya Rasulullah memerintahkan aku untuk memancung batang leher Hafshah niscaya akan kulakukan sekarang juga!”

Umar sengaja mengulang-ulang perkataannya dengan keras karena berharap Nabi mendengarnya. Akhirnya, Rabah memberi isyarat bahwa Nabi telah berkenan menerimanya.

Bergegas Umar masuk ke dalam bilik Nabi. Tempat itu begitu sempit dan amat sederhana, hanya berpunya tangga dari batang-batang pohon kurma. Nabi hanya menghamparkan sehelai tikar kasar sebagai alas, yang ketika beliau bangun dari tidurnya, maka membekaslah tikar kasar itu pada tubuhnya. Umar juga hanya melihat sedikit gandum, biji-bijian, dan daun-daunan sebagai bekal sekadar menjaga kondisi jasmani lelaki agung itu.

Tanpa terasa air mata Umar meleleh demi memperhatikan bilik Nabi itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi beliau selama sebulan berada di tempat ini tanpa bantuan seorang isteri pun di sampingnya.

“Wahai Umar,” kata Nabi begitu melihat Umar menangis. “Mengapa engkau menangis?”

“Aku menangis, karena melihat tempat tinggal engkau ini, ya Rasulullah,” jawab Umar diantara isak. “Engkau hanya berhamparkan tikar ini sampai membekas pada lambung engkau, di tempat yang tidak berisikan apa-apa kecuali sedikit gandum dan sebuah labu yang menggantung.”

Umar pun lalu menyampaikan kekhawatiran para sahabat.

“Ya Rasulullah,” kata Umar parau. “Apakah yang menyebabkan hati engkau kesal kepada isteri-isteri engkau? Sekiranya mereka engkau cerai, Allah akan ada di samping engkau, malaikat Jibril dan Mikail bersama engkau, demikian pula Abu Bakar, Umar dan segenap kaum muslimin tentu ada bersama engkau.”

Lelaki agung itu pun kini tersenyum.

Umar pun melanjutkan pertanyaannya, “Betulkah demikian, ya Rasulullah?”

“Tidak,” jawab Rasulullah singkat. “Mereka itu belum kuceraikan.”

Seketika hati Umar bergembira begitu rupa. Ia pun bergegas kembali ke masjid setelah meminta izin Nabi. Ia lalu mengumumkan kepada segenap kaum muslimin bahwa Nabi tidak menceraikan para isterinya kecuali hanya ingin memberi pelajaran saja.

***

Kata “manage” (Inggris) berasal dari kata “maneggiare” (Italia) yang berarti “to handle” (menangani). Ini tidak mengherankan karena “maneggiare” merupakan turunan dari kata “manus” (Latin) yang berarti “tangan”. Dengan begitu, manajemen boleh berarti “proses bagaimana menangani sesuatu”. Pada mulanya, kata ini biasa dihubungkan dengan “menangani kuda”. Namun, Mary Parker Follett (1868 – 1933) yang menulis tentang hal ini di awal abad 20 mendefinisikan manajemen sebagai “the art of getting things done through
people”.

Pada abad 21 ini, manajemen merupakan kajian yang berkembang pesat dan sangat luas, hingga terlalu sulit untuk memilahnya lagi ke dalam 5 kelompok fungsionalnya (planning hingga controlling) seperti dikatakan Henry Fayol (1841 – 1925) dalam bukunya Administration Industrielle et Générale yang ditulisnya di tahun 1917. Bahkan area manajemen kini meliputi tak kurang 64 cabang, mulai dari administrative management yang konvensional hingga information technology management pada era sekarang ini.

Tetapi, semua area manajemen di atas – bahkan manajemen IT sekalipun – relatif mudah untuk dilakukan, karena sudah banyak tools bisa dipakai, standart operation procedure (SOP) yang bisa diterapkan, berikut berbagai standarisasi bisa digunakan semacam ISO (International Standarts Organization). Bahkan kinerja manajemen atau korporat sudah bisa diukur dengan berbagai metode seperti misalnya Balanced Scorecard (BSC).

Lalu, manajemen macam apa yang paling sulit di dunia?

Kiranya tak ada yang lebih sulit dari “menangani manusia” di mana rasa keadilan sudah diklaim sekali-kali tidak akan bisa bekerja. Itulah manajemen rumah tangga poligami. Allah sendiri sudah menjatuhkan nash-Nya, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian; karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (Q.S. An-Nisa’: 129). Poligami, karenanya, adalah serupa terowongan jalan keluar bagi manusia yang disiapkan Tuhan, tetapi ditutup dengan batu besar yang kokoh. Tak seorangpun bisa keluar dari padanya kecuali mampu mengatasi batu besar itu.

Sebagai role-model atau uswah bagi sekalian manusia, maka Rasulullah pun haruslah sosok yang “bisa dicontoh dari sisi apa saja.” Itu berarti, termasuk contoh untuk manajemen yang paling sulit ini. Jika kita sudah kesulitan hanya sekadar membayangkan memiliki isteri dua orang saja, Rasulullah setidaknya telah diberi-Nya amanah 9 orang isteri; ada yang masih gadis perawan, juga janda-janda; ada yang remaja maupun nenek-nenek; ada yang lugu, juga yang cerdas; dan ada yang cantik maupun yang biasa-biasa saja. Semuanya memiliki karakteristik yang totally different satu dengan lainnya. Bayangkan, betapa rumitnya beliau membagi nafkah lahir termasuk sandang dan pangan, mengatur giliran ke masing-masing isterinya, juga mengelola “konflik” antar mereka. Sementara beliau sendiri nyaris tak pernah beristirahat dari tugas dakwah yang harus diemban setiap harinya.

Itu belum lagi jika kita membayangkan pula bagaimana Nabi membagi cintanya.

Bagaimanapun para ummatul mu’minin adalah juga wanita. Mereka bisa ngambek sebagaimana wanita biasa lainnya, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Hingga Rasulullah pun sampai perlu memberikan mereka – juga kita — pelajaran yang amat berharga: menjauhi isteri-isterinya selama sebulan (atau istilah mutakhirnya mungkin semacam pisah-ranjang).

Inilah praktek manajemen paling hebat yang pernah ada di dunia, bahkan berbilang abad sebelum Henry Fayol disebut-sebut sebagai “the father of modern operational management theory” pada abad ke-19.

***

Hari itu suasana tampak cerah seperti matahari musim semi sedang membelah cakrawala Madinah di ufuk timur. Mendung kelabu yang bergelayut selama sebulan itu telah lenyap.

Kegembiraan segenap ummahatul mu’minin membuncah melihat suami mereka kini pulang. Semua berdiri di depan pintu kediamannya sambil menatapkan pandangan mata pada suami tercinta. Hanya ‘Aisyah yang tetap berada di rumahnya, berkemas menyambut Rasulullah. Ia yakin, kediamannya adalah tempat yang pertama akan dikunjungi suami tercintanya itu.

Jantungnya semakin berdegup demi mendengar langkah Rasulullah mendekat memasuki kediamannya. Dan berdirilah di pintu masuk itu Rasulullah yang agung.

“Ya Rasulullah! Sesungguhnya apa yang telah aku ucapkan kepada engkau tidaklah keluar dari hatiku,” sambut ‘Aisyah mesra. “Tetapi … engkau marah padaku.”

Rasulullah bergeming dan belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Engkau bersumpah akan menjauhi kami selama satu bulan,” sambung istri tercintanya itu, tersenyum, sambil bercanda. “Padahal, sekarang baru dua puluh sembilan hari!”

Lelaki agung itu kini tersenyum. Wajah bulan purnama itu bersinar kembali. Ia mengerti, ‘Aisyah tentu siang-malam telah menghitung hari-hari selama beliau jauhi.

Masih dalam senyuman yang terindah, beliau menjawab, “Bukankah bulan ini … memang hanya dua puluh sembilan hari, ‘Aisyah?”

***

* sariyyah = istri sah menurut syara’, tetapi berstatus sama dengan hamba sahaya.

Cinta Yang Tak bertepi…

•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kabut pasir! Hujan batu kerikil! Juga caci-maki!

Anak-anak, hamba sahaya, juga tetangga keluarga Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi berhamburan keluar rumah. Berbaris. Berjajar di sepanjang jalan dari rumah penguasa kota Thaif itu. Batu kerikil di tangan. Pasir berguguran dalam genggaman. Mulut-mulut berteriak penuh cacian. Mereka seperti berlomba melempar.

Dua orang lelaki tak berdaya tertatih di bawah hujan batu, kerikil, dan pasir serupa terseret di dalam badai gurun sahara yang terik.

Mereka mengarahkan batu-batu itu ke kaki Nabi. Kedua kakinya luka menganga. Berdarah-darah. Manusia yang mulia itu bahkan sampai harus berjalan merangkak-rangkak menahan sakit. Zaid bin Haritsah yang menyertainya pun tak luput dari sasaran. Kepalanya luka parah berkucur darah terkena lemparan batu. Sementara kerikil, batu, dan pasir tak henti beterbangan dari tangan-tangan keluarga Bani Tsaqif itu.

Caci-maki dan ejekan terus berlangsung hingga kedua lelaki itu sampai di sebuah kebun di luar kota. Mereka pun bubar. Nabi dan Zaid lalu berteduh di tempat itu. Menunggu luka terhenti dan mengering. Barang sesaat. Demi mengetahui kalau kebun itu milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah yang juga memusuhi beliau di Mekah, Rasul pun mengadu.

“Ya, Allah! Kepada Engkaulah aku mengadukan kelemahan kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku dan kehinaan bagi manusia, ya Tuhan Yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang berkasih sayang.*”

***

Abu Thalib baru saja wafat. Hanya berselang hari, Khadijah yang amat dicintainya pun pergi untuk selamanya dari sisinya. Lelaki itu telah kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dalam waktu yang hampir bersamaan, serupa kehilangan kaki untuk melangkah sekaligus punggung buat bersandar.

Ia memang seorang Nabi. Tetapi ia pun seorang manusia biasa. Kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dan selama ini menjadi tulang-punggung dakwahnya tentu merupakan pukulan yang berat. Tidak ada dukacita yang lebih besar beliau rasakan sejak bertemu Jibril di Gua Hira kecuali saat itu.

Tekanan Quraisy pun menjadi. Cercaan, hinaan, dan perlakuan menyakitkan dari mereka siang malam terus diterimanya. Tak henti. Nabi lalu pergi secara diam-diam ke Bani Tsaqif di Thaif untuk mengobati dukanya ini. Semula beliau membawa harapan yang besar, mengingat pemuka mereka masih keluarga dekatnya. Tetapi, apa yang kemudian dialaminya bersama Zaid sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih mengharap pelita segera terpetik di daerah sebelah tenggara Mekah yang subur itu. Justru yang beliau terima adalah hujan batu dan sumpah-serapah.

***

Ketika keduanya selesai beristirahat di kebun itu dan kemudian meneruskan perjalanan kembali ke Mekah, datanglah malaikat Jibril diiringi malaikat penjaga gunung.

“Ya, Rasulullah!” kata Jibril. “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu dan penolakan mereka kepadamu. Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung supaya engkau perintahkan kepadanya apa yang engkau kehendaki atas kaum Bani Tsaqif itu.”

“Ya, Rasulullah,” sahut malaikat penjaga gunung. “Jika engkau mau supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini di atas mereka, niscaya akan aku lakukan.”

Gunung Abu Qubais dan Qa’aiqa’an tampak kokoh berhadapan di kejauhan bak dua raksasa yang berdiri diantara Mekah dan Thaif. Melemparkan keduanya ke atas perkampungan Bani Tsaqif akan serupa hujan batu atas kaum Sadum ketika mendustakan Nabi Luth as.

“Tidak, Jibril!” jawab Nabi tegas. “Bahkan aku berharap mudah-mudahan Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

***

Serupa apakah cinta sejati itu? Jika “cinta” saja, kata John Ralston Saul, penulis dan filosof dari Kanada, disebut sebagai a term which has no meaning if defined, apalagi cinta sejati.

Mungkin cinta jika cuma terkatakan hanyalah berarti setengah cinta atau cinta setengah. Kalau tidak malah cinta setengah-setengah. Sebagian besar cinta boleh jadi justru mengejawantah pada selain indahnya kata. Pada senyum yang tulus, mata yang teduh, tangan yang terulur, bahu yang memikul, kaki yang bergerak ringan, hingga dekap erat-hangat.

Cinta juga terlihat pada kesediaan berbagi, menjalani, dan berkorban, apa saja, demi sesuatu atau seseorang yang dicinta. Dan barangkali cinta mencapai puncaknya ketika seseorang mau bertaruh nyawa untuk sang kekasih, berkorban hingga tetes darah terakhir demi yang dicinta.

Bagaimana halnya jika seseorang merelakan dirinya terluka oleh yang dicinta dan tak pernah mau memendam dendam untuk suatu saat menuntut balas jika berkesempatan? Aha! Boleh jadi, inilah cinta sejati. Itulah cinta yang nyaris tak bertepi. Seperti kata Kahlil Gibran suatu kali,

Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku.
Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

Rasulullah adalah sosok pribadi dengan cinta yang nyaris tak bertepi itu. Batu kerikil yang beterbangan menyayat luka di kulit, darah yang mengalir diiringi sakit, juga cacian, hinaan, ejekan, dan sumpah-serapah yang diterimanya pada peristiwa di Thaif rasanya sudah lebih dari cukup untuk tidak pernah dimaafkan. Kalau perlu dituntut balas dengan sepadan perih.

Ia memang manusia biasa. Tetapi bagaimanapun, ia bukanlah manusia biasa seperti kita. Kecintaan pada yang dicintanya sungguh tiada berbatas. Dan yang amat dicintanya itu tidak lain adalah kaum kepada siapa beliau diutus. Termasuk kita!

Dan cinta itu ditunjukkannya nyaris pada sepanjang hayat. Bahkan ketika saat-saat terakhir menjelang beliau pergi, bagian dari yang disebut bibirnya yang mulia adalah ummati, ummati. Umatku, umatku. Sungguh cinta kepada umatnya dibawanya hingga tarikan nafas terakhir.

Begitu pulalah yang terjadi di jalan antara Thaif dan Mekah itu. Ketika kedua malaikat menawarkan diri melempar kaum Tsaqif dengan dua gunung sebagai bentuk balasan atas penghinaan itu, Rasulullah hanya menggeleng. Meski kaumnya memusuhinya begitu rupa, cintanya kepada mereka sudah terlanjur tak bertepi.

***

“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan supaya aku menuruti keinginanmu terhadap kaummu, Ya Rasulullah,” sambung Jibril, demi mendengar jawaban Nabi, “karena perbuatan mereka kepadamu.”

Lemparan batu, kerikil dan pasir masih membekas di tubuhnya yang mulia. Peristiwa penghinaan itu masih sangat segar di ingatan. Bahkan luka di kedua kaki beliau belum juga mengering. Tetapi beliau justru memanjat doa.

“Ya Allah! Tunjukkanlah (jalan yang lurus) kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”

Jibril dan malaikat penjaga gunung kemudian sama-sama berkata, “Maha benar Tuhan yang telah menamakan dirimu pengasih serta penyayang!”**

Minal Aidzin Wal Faidzin..

•Oktober 8, 2007 • 1 Komentar

allahu akbar allahu akbar,, hari kemenangan akan segera tiba.. hari penuh rahmat akan segera meninggalkan kita.. sedih sekaligus senang… mungkin itu gambaran umum setiap muslim pada saat ini…

atas nama pribadi saya mengucapkan slamat hari raya idul fitri 1428 H.. mohon maaf atas sgala khilaf yg di sengaja maupun tidak.. baik yg kecil maupun besar…

kembali ke fitri_-_

me… untouchbale..

raya_ketupat.jpg

_Asep Komarudin_

TiM GembelZ jgc 13

•Oktober 8, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

ini lah salah satu keceriaann me n my friends.. ini di rumahnya teh nining yg punya id star.light.. sewaktu merayakan ultah putri tercintanya … _-_sahabatselamanya.jpg

kompak slalu yee.. meskipun smua ini tidak akan bertahan lama dan suatu saat

pasti akan berpisah,, namun slama masih bisa berkumpul tetaplah tersenyum..

tim gembelz jgc – 13..

menanti bulan suci ramadhan

•September 8, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

assalamualaikum wr wb

menyambut datangnya bulan suci ramadhan… saya pribadi mohon maaf lahir bathin dari sgala.. ketikan, omongana atau candaan yg kurang berkenan di hati.. akhir kata.. slamat menunaikan ibdah puasa..mudah”an slalu diberi kesehatan dan  kemudahan dalam menjalankanya__ dan smoga aLLah swt berkenan menerima sgala ibdah kita…. amin

temenmu_ yg merindukanmu slalu________

—————-